Isi
Telegram Tingkatkan Laba Melalui Aset Kripto The Financial Timesmemeriksa laporan finansial Telegram yang belum terverifikasi, bertanggal 22 Oktober 2024, dan dialamatkan kepada para pemodal. Telegram melaporkan kenaikan signifikan dalam valuasi aset digitalnya selama semester pertama tahun 2024, melonjak menjadi $1,3 miliar dari hampir $400 juta pada akhir tahun sebelumnya. Lonjakan ini terutama didorong oleh pemasaran mata uang kripto Toncoin. Pemasukan perusahaan untuk periode Januari hingga Juni 2024 mencapai $525 juta, hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, $225 juta berasal dari perjanjian dengan pihak yang tidak disebutkan namanya, di mana Telegram menerima remunerasi karena menjadikan Toncoin sebagai sarana eksklusif bagi pelaku usaha untuk membeli iklan dalam aplikasi. Namun, perjanjian ini dihentikan pada 1 Oktober. Pada semester pertama tahun ini, pemasukan dari transaksi aset digital mencapai $353 juta, dengan $348 juta berasal dari penjualan Toncoin. Pendapatan dari iklan juga menunjukkan pertumbuhan, menyentuh angka $120 juta dalam enam bulan pertama tahun 2024—lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, penjualan langganan premium melesat menjadi $119 juta, naik dari $32 juta. Sepanjang perjalanannya, Telegram telah menghimpun sekitar $2,4 miliar melalui pembiayaan utang, yang akan jatuh tempo pada tahun 2026. Berdasarkan dokumen tersebut, pada September 2024, Telegram memanfaatkan sebagian dari total pendapatannya untuk menebus sebagian obligasinya, dengan nilai $124,5 juta. Walaupun obligasi Telegram masih diperdagangkan di bawah nilai par, harganya telah pulih dari depresiasi awal yang dipicu oleh penahanan Pavel Durov. Saat ini, obligasi tersebut diperdagangkan pada nilai 95 sen per dolar, dibandingkan dengan 87 sen pada bulan Agustus.