Kembalinya identitas kultural orang Papua adalah jasa besar Gus Dur dalam upaya membangun keadilan-kesetaraan bagi Papua. Pendekatan yang humanistik dan non-diskriminasi adalah jalan terang bagi masa depan Papua.
Lebih dalam dari itu adalah nilai-nilai kemanusiaan yang mendasarinya.
Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta.
Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.
Baca ulasan artikel menarik nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur dalam kasus konflik Papua.
#9NilaiUtamaGusDur
”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw.
Selengkapnya: *GUS DUR DAN DAMAI UNTUK PAPUA*
http://www.gusdurian.net/id/article/all-categories/Gus-Dur-dan-Damai-untuk-Papua/
"Jika Orde Baru melakukan pemaksaan dan penyeragaman melalui pendekatan keamanan dan kekerasan, presiden Gus Dur membalik dengan mengakui eksistensi mereka dan merangkulnya untuk kemudian diajak bicara (peace talk) tentang tuntutan mereka."
Selengkapnya: *PENDEKATAN KULTURAL GUS DUR TERHADAP KONFLIK ACEH DAN PAPUA*
http://www.gusdurian.net/id/article/all-categories/Pendekatan-Kultural-Gus-Dur-terhadap-Konflik-Aceh-dan-Papua/
"Namun saat presiden Abdurrahman Wahid memimpin, nama Irian Jaya dikembalikan lagi ke nama awalnya, Papua. Gus Dur sekaligus membentuk Presidium Dewan Papua (PDP) yang mewadahi ratusan suku di Papua. Pembentukan ini merupakan perwujudan pemerintahan Gus Dur untuk memberikan hak otonomi penuh terhadap wilayah Papua."
Selengkapnya: *DIALOG TANPA SENJATA*
http://www.gusdurian.net/id/article/all-categories/Dialog-Tanpa-Senjata/
"Hal yang sangat dikenang selama Gus Dur menjabat sebagai kepala negara adalah berkurangnya tindakan represi dan kekerasan yang dilakukan oleh militer kepada masyarakat Papua. Mengingat pemerintahan sebelumnya yang sangat militeristik."
*FILEP KARMA, GUS DUR, DAN PAPUA*
Selengkapnya: http://www.gusdurian.net/id/article/all-categories/Filep-Karma-Gus-Dur-dan-Papua/
*Gus Dur sudah meneladankan, kini tugas kita melanjutkan*
#9NilaiUtamaGusDur
Bacaan menjelang tidur buat sahabat semua. Tulisan bernas Gus Dur.
BIROKRATISASI GERAKAN ISLAM
Bagaimana mungkin kita tangani korupsi (yang melibatkan kepentingan kaum birokrat) dengan baik, kalau kita tidak berani berpegang kepada kedaulatan hukum? Demikian juga, kalau kita tidak berani menegakkan kewibawaan aparat keamanan dan membiarkan ormas-ormas keagamaan Islam melakukan kekerasan, dengan sendirinya kendali atas keadaan hilang sama sekali.
http://www.gusdurian.net/id/article/pilihan-redaksi/Birokratisasi-Gerakan-Islam/
#9nilaiutamagusdur
Bacaan hangat malam hari menjelang tidur. #HarlahGusDur#9NilaiUtamaGusDur
AGAMA DAN DEMOKRASI
Selasa, 20 Agustus 2019
oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Pada saat ini tampak hubungan erat antara agama dan proses demokratisasi. Di mana-mana gerakan agama secara aktif mendorong upaya penegakan demokrasi. Dom Helder Cemara [1], seorang uskup agung di Brasil, menggerakkan kekuatan rakyat untuk memperjuangkan demoknasi selama belasan tahun, dengan menghadapi tuduhan bahwa ia condong kepada komunisme. Ia bahkan dikenal dengan julukan “Uskup Merah” karena pemihakannya kepada gerakan rakyat.
Terkenal ucapannya “Kalau saya mengumpulkan makanan untuk orang kecil saya disebut orang suci; tetapi kalau mempertanyakan sebab kemiskinan rakyat kecil itu, dengan segera saya disebut komunis”.
Vinoba Bhave[2], orang suci Hindu yang berjalan kaki menjajaki anak benua India di tahun-tahun 1950-an dan 1960-an tanpa alas kaki, meminta kerelaan kaum bertanah luas untuk secara suka rela membagikan sebagian tanah mereka kepada kaum miskin tak bertanah, dengan demikian membangun demokrasi ekonomi.
Sulak Sivaraksa[3], pemimpin awam kaum Buddha di Thailand, pemah diancam hukuman mati karena memperjuangkan kebebasan berbicara, termasuk mengkritik dan mempertanyakan kedudukan raja. Hanya berkat campur tangan tokoh-tokoh dunia seperti Margareth Thatcher[4] ia dapat terhindar dari eksekusi hukuman mati.
Selengkapnya:
http://www.gusdurian.net/id/article/pilihan-redaksi/Agama-dan-Demokrasi/
TUJUH HAKIKAT KEMERDEKAAN MENURUT GUS DUR
Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur secara tegas mengungkap tujuh poin alasan mengapa saat itu bangsa Indonesia harus merdeka dari tangan penjajah dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Tujuh poin pernyataan ini tidak hanya dimaksudkan Gus Dur untuk menelaah kembali arti kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai dasar dan pijakan melangkah bagi Indonesia.
Hakikat kemerdekaan yang diungkapkan Gus Dur juga masyarakat tidak terjajah oleh berbagai ‘baju kotor’ yang terus menggelayuti rakyat Indonesia dalam bentuk kolonialisme modern berbalut agama, radikalisme global, penolakan terhadap tradisi dan budaya, intoleransi, kapitalisme, pencekik rakyat kecil, reduksi moralitas, dan perilaku korup.
Tujuh poin ini diungkapkan oleh Gus Dur saat memandu diskusi dalam Forum Demokrasi (Fordem) pada 8 Agustus 1991 silam untuk memperingati HUT ke-46 Republik Indonesia. Dokumen tersebut dimuat di Majalah AULA Nahdlatul Ulama.
Menurut Gus Dur, kemerdekaan yang diproklamasikan oleh para founding fathers dapat terwujud karena setidaknya harus menyatakan beberapa hal mendasar yang menjadi unsur-unsur utamanya. Hal ini juga sebagai alasan fundamental bangsa Indonesia untuk melangkah ke depan sebagai modal moral, spiritual, maupun material. Berikut tujuh pernyataan tersebut:
Baca selengkapnya:
http://www.gusdurian.net/id/article/headline/Tujuh-Hakikat-Kemerdekaan-Menurut-Gus-Dur/
#HarlahGusDur
#9NilaiUtamaGusDur
#HarlahGusDur
#9NilaiUtamaGusDur
#NilaiPembebasan
LAGI, TENTANG GUS DUR DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Saya membubuhkan kata “Lagi” di judul tulisan ini, karena memang pernah membahas topik serupa. Pada tulisan sebelumnya saya mengaitkan isu ini dengan sosok Dom Helder Camara, tokoh yang pernah juga diulas KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Semangat pembebasan dengan fondasi teologis yang dilakukan oleh Gus Dur, memiliki langgam yang sedikit berbeda dengan Teologi Pembebasan Amerika Latin maupun Eropa. Ini adalah sebuah “teologi pembebasan” yang khas Indonesia, dalam lingkup yang lebih sempit lagi, Islam, khususnya, Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai komunitas muslim, NU tentu saja tidak berkiblat pada kosmologi Arab Timur Tengah, tapi Indonesia, Jawa Timur, atau lebih tepatnya Jombang. Bangunan teologi juga ada dalam keriuh rendahan Jombang sebagai locus theologicusnya.
Teologi Pembebasan ala Gus Dur, kalaulah itu bisa disebut begitu, menjadi menarik karena disajikan dengan nuansa yang sangat berbeda. Meminjam bahasanya Esposito, Gus Dur adalah seorang modern reformer, but not islamic modernist.
Selengkapnya:
http://www.gusdurian.net/id/article/pilihan-redaksi/Lagi-Tentang-Gus-Dur-dan-Teologi-Pembebasan/
Sahabat, selamat menikmati sore hari sembari membaca tulisan Gus Dur yang butuh perenungan mendalam. Selamat menikmati :)
REPUBLIK BUMI DI SURGA: SISI LAIN MOTIF KEAGAMAAN DI KALANGAN GERAKAN MASYARAKAT
Senin, 19 Agustus 2019
oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Reformisme dalam Gerakan Keagamaan Gambaran umum tentang gerakan masyarakat (istilah lain untuk ‘gerakan non pemerintah’, yang di negeri ini mengandung konotasi konflik faktual atau potensial dengan pemerintah) yang didorong oleh motif keagamaan meliputi spektrum yang membentang antara dua titik diametral disatu pihak, kecenderungan untuk mewujudkan sebuah ‘Kerajaan Tuhan’ di muka bumi, dan di pihak lain penolakan sasaran perjuangan seperti itu untuk dicukupkan dengan hanya memperbaiki keadaan masyarakat yang telah diterima bentuk dan bangunannya secara tuntas. Gambaran yang dikotomis seperti itu, mengandaikan bahwa kecenderungan messianistik dan millenarianistik adalah satu-satunya kecenderungan revolusioner di lingkungan gerakan masyarakat yang memiliki motif keagamaan. Selain kecenderungan tersebut, motif keagamaan hanyalah mampu memunculkan apa yang oleh jargon Marxis dikenal sebagai ‘sikap reformis’, sebuah dosa tak berampun bagi ideologi revolusioner seperti komunisme.
Baca selengkapnya:
http://www.gusdurian.net/id/article/pilihan-redaksi/Republik-Bumi-di-Surga-Sisi-Lain-Motif-Keagamaan-di-Kalangan-Gerakan-Masyarakat/
#9NilaiUtamaGusDur
#HarlahGusDur
#Pembebasan